Kamis, 30 Mei 2013
PRTANYAAN TERBUKA DAN TERTUTUP "Verbal & Nonverbal"
PERTANYAAN TERBUKA DAN TERTUTUP
Pertanyaan Terbuka : pertanyaan yang memungkinkan penjawab
memberikan jawaban secara terbuka dan luas.
Pertanyaan Tertutup : pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak, atau dijawab dengan satu atau dua kata.
Pertanyaan Tertutup : pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak, atau dijawab dengan satu atau dua kata.
Pertanyaan Terbuka dan Tertutup
“it is better to ask some question than to
know all the answer”
“Mengapa bertanya saja memerlukan
teknik? Kok repot amat sih….” Semakin baik teknik kita dalam bertanya, semakin
efektiflah pertanyaan yang kita ajukan sehingga tujuan bisa tercapai. Sulitkah
mendesain pertanyaan yang efektif? Ya dan tidak jawabannya. Tergantung seberapa
sering kita berlatih mendesain dan menerapkannya di dalam kelas.
Dua jenis dalam bertanya yaitu, pertanyaan tertutup : Tujuan: informasi, Memiliki jawaban yang spesifik –
benar/salah. Umumnya tidak akan mengarah ke diskusi/dialog atau refleksi lebih
lanjut.
dan pertanyaan terbuka. : Tujuan: pemikiran lebih dalam, pengetahuan prosedural,
konseptual, reflektif, Mengarah kepada diskusi lebih lanjut, refleksi,
perbaikan pemikiran.
Teknik Bertanya yang Baik Melibatkan
Guru dalam Fungsi Kognitif yang Spesifik:
§
Masukan—mengingat, mendefinisikan, mendeskripsikan,
mengidentifikasi, menyebutkan, mendaftarkan
§
Proses—membandingkan, menyimpulkan, menganalisis,
mengurutkan, meringkas
§
Keluaran—memprediksi, mengevaluasi, menebak, membayangkan,
memvisualisasikan
PERTANYAAN TERBUKA DAN
TERTUTUP
Pertanyaan
terbuka. Pertanyaan-pertanyaan terbuka meliputi pertanyaan-pertanyaan seperti
“Bagaimana pendapat anda tentang menempatkan semua manajer ke internet?” dan
“Mohon jelaskan bagaimana anda membuat suatu keputusan tentang penjadwalan?”
Amati istilah open-ended. “terbuka” menggambarkan pilihan bagi orang yang
diwawancarai untuk merespon. Mereka terbuka. Respon bisa berupa dua kata atau
dua paragraf.
Pertanyaan terbuka memungkinkan responden bisa memilih responsnya. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara-wawancara yang berlainan dan tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara terbuka:
•Bagaimana pendapat anda tentang kondisi bisnis-ke-bisnis e-commerce di perusahaan anda?
•Apa tujuan-tujuan terpenting departemen anda?
•Sekali data diajukan lewat web site, bagaimana data-data tersebut akhirnya diproses?
•Gambarkan proses monitoring yang tersedia secara online?
•Apa rasa frustasi terbesar yang anda alami selama masa peralihan menuju e-commerce?
Pertanyaan wawancara tertutup membatasi pilihan responden untuk merespons. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara- wawancara yang berlainan dab tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara tertutup:
•Berapa lama dalam seminggu gudang informasi diperbaharui?
•Rata-rata, berapa kali panggilan yang diterima pusat panggilan setiap bulannya?
•Dari sumber-sumber informasi berikut yang mana paling bermanfaat menurut anda:
oFormulir keluhan konsumen
oKeluhan lewat e-mail dan konsumen yang mengunjungi web site
oInteraksi tatap muka dengan konsumen
oBarang yang dikembalikan konsumen
•Sebutkan dua prioritas utama anda untuk meningkatkan infrastruktur teknologi.
•Siapa yang menerima masukan ini?
Pertanyaan wawancara dua pilihan adalah jenis khusus dari pertanyaan tertutup. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara-wawancara yang berlainan dan tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara dua-pilihan:
•Apakah anda menggunakan web untuk menampilkan informasi bagi vendor?
•Setuju arau tidak setujukah anda bahwa e-commerce tidak begitu aman?
•Apakah anda ingin menerima salinan laporan keuangan anda setiap bulan?
•Apakah web site anda mempertahankan halaman FAQ bagi pegawai untuk pertanyaan-pertanyaan tentang gaji/upah?
•Apakah formulir ini sudah dilengkapi?
Struktur piramid untuk wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan khusus ke pertanyaan-pertanyaan umum.
Struktur corong untuk wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan umum lalu menyempit ke pertanyaan-pertanyaan khusus.
Pertanyaan terbuka memungkinkan responden bisa memilih responsnya. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara-wawancara yang berlainan dan tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara terbuka:
•Bagaimana pendapat anda tentang kondisi bisnis-ke-bisnis e-commerce di perusahaan anda?
•Apa tujuan-tujuan terpenting departemen anda?
•Sekali data diajukan lewat web site, bagaimana data-data tersebut akhirnya diproses?
•Gambarkan proses monitoring yang tersedia secara online?
•Apa rasa frustasi terbesar yang anda alami selama masa peralihan menuju e-commerce?
Pertanyaan wawancara tertutup membatasi pilihan responden untuk merespons. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara- wawancara yang berlainan dab tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara tertutup:
•Berapa lama dalam seminggu gudang informasi diperbaharui?
•Rata-rata, berapa kali panggilan yang diterima pusat panggilan setiap bulannya?
•Dari sumber-sumber informasi berikut yang mana paling bermanfaat menurut anda:
oFormulir keluhan konsumen
oKeluhan lewat e-mail dan konsumen yang mengunjungi web site
oInteraksi tatap muka dengan konsumen
oBarang yang dikembalikan konsumen
•Sebutkan dua prioritas utama anda untuk meningkatkan infrastruktur teknologi.
•Siapa yang menerima masukan ini?
Pertanyaan wawancara dua pilihan adalah jenis khusus dari pertanyaan tertutup. Contoh-contoh berikut dipilih dari wawancara-wawancara yang berlainan dan tidak ditunjukkan menurut perintah tertentu.
Pertanyaan wawancara dua-pilihan:
•Apakah anda menggunakan web untuk menampilkan informasi bagi vendor?
•Setuju arau tidak setujukah anda bahwa e-commerce tidak begitu aman?
•Apakah anda ingin menerima salinan laporan keuangan anda setiap bulan?
•Apakah web site anda mempertahankan halaman FAQ bagi pegawai untuk pertanyaan-pertanyaan tentang gaji/upah?
•Apakah formulir ini sudah dilengkapi?
Struktur piramid untuk wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan khusus ke pertanyaan-pertanyaan umum.
Struktur corong untuk wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan umum lalu menyempit ke pertanyaan-pertanyaan khusus.
KETERAMPILAN KOMUNIKASI DAN
KONSELING BIDAN
Rate
This
HANDOUT
(Komunikasi Kebidanan, Bd. 202)
Keterampilan
Inti KIP/K
1. Sikap Empati
2. Menciptakan/membina hubungan yang baik
dengan klien
3. Menunjukkan tingkah laku verbal/nonverbal
yang positif
4. Menjadi pendengar yang baik
5. Bertanya dengan pertanyaan terbuka
6. Mempertahankan kontak mata saat
berkomunikasi
Referensi:
- MNH-DEPKES. KomunikasiEfektif ibu selamat, bayi
sehat, keluarga bahagia. Modul Pelatihan Keterampilan Komunikasi
interpersonal/konseling (KIP/K). Jakarta : 2002.
- Uripni, C.L, Untung Sujianto, TatikIndrawati.
Komunikasi Kebidanan.Jakarta : EGC.2003 : 4-26.
- IBI, 9 Modul
Kebidanan (Modul Pelatihan Konseling Bagi Bidan Pada Klinik IBI).Jakarta :
2003.
- Alexander Jo,Valerie Levi, Sarah Roch. Midwifery
Practice.London : The Macmillan PressLtd.1994:1-15.
Pendahuluan
Angka kematian di Indonesia masih
tinggi. Setiap tahun sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang
setipa satu jam,karena kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata
tidak hanya diikuti oleh tingginya angka kematian bayi tetapi juga meninkatkan
jumlah balita yang piatu baru (± 36.000 setiap tahun).
Risiko
kematian ibu akibat kehamilan,persalinan,dan nifas serta bayi, dapat dikurangi bila ada
upaya persiapan persalinan dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.
Salah satu ujung otmbak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah
bidan. Namun, pada kenyataannya walaupun hampir semua pemeriksaan antenatal
datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun beranak.
Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan
dengan bidan.
Salah
satu penyebab keadaan tersebut diatas adalah rendahnya kualitas
keterampilan komunikasi dan konseling tenaga kesehatan (bidan).Penelitian di
Jawa Barat menyimpulkan bahwa keterampilan teknis medis semata tidak cukup
untuk memberikan pelayanan yang memuaskan ibu.
Kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak terhadap transfer pesan
kepada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka dan kurang mampu
menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap perasaan klien,
klien tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirankan kredibilitas bidan
tersebut diragukan.
Dari
penelitian di Indonesia (Januari 1997 di dua propinsi yaitu Jabar dan Jateng)
tentang interaksi bidan-klien menunjukkan bahwa banyak bidan yang tidak
menggunakan keterampilan konseling yang baik, misalnya :
- Para bidan cenderung mendominasi sesi konseling
(63% ucapan didominasi oleh bidan), kurang memberi kesempatan kepada klien
untuk berbicara panjang lebar atau mengungkapkan keinginan dan
perasaannya.
- Para bidan lebih banyak mengajukan pertanyaan
tertutup (pertanyaan yang sifatnya mengarahkan pada jawaban ya dan tidak).
- 23 % ucapan bidan adalah pengulangan kata-kata
bidan itu sendiri.
Pelatihan keterampilan
komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K) untuk bidan bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi interpersonal dan
konseling sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan lebih baik.
MATERI
Sikap Empati
Empati merupakan pengaruh dan interaksi
diantara kepribadian-kepribadian. Empati atau einfulung berarti ‘merasakan ke
dalam’. Empati berasal dari kata Yunani “pathos” berarti mendalam dan kuat yang
mendekati penderitaan, dan kemudian diberi awalan “in” menjadi simpati.
Perbedaannya bila simpati berarti merasakan bersama dan mungkin mengarah pada
sentimentalitas, maka empati mengacu pada keadaan identifikasi kepribadian yang
lebih mendalam kepada seseorang. Seseorang yang berempati sesaat melupakan atau
kehilangan identitas dirinya sendiri. Dalam proses empati yang mendalam dan
misterius inilah berlangsung proses pengertian, pengaruh, dan bentuk hubungan
antar pribadi.
Beberapa pengertian empati menurut
pendapat ahli, antara lain :
1. George dan Cristiani (1981)
Empati merupakan kemampuan untuk
mengambil kerangka berpikir klien sehingga dapat memahami dengan tepat
kehidupan dunia dan makna-maknanya dan bisa dikomunikasikan kembali dengan
jelas terhadap klien. Dengan berempati, memungkinkan konselor untuk mendengar
dan bereaksi terhadap kehidupan perasaan klien, yakni: marah, benci, takut,
menentang, tertekan, dan gembira.
2. Stewart (1986)
Empati merupakan kemampuan untuk
menempatkan diri di tempat orang lain agar dapat memahami dan mengerti
kebutuhan serta perasaannya. Empati menuntut untuk masuk ke pandangan dunia
klien dan untuk melihat dengan mata mereka dan selanjutnya “to walk in their shoe”.
3. Rogers
Empati adalah memasukkan dunia klien
beserta perasaan-perasaannya ke dalam diri sendiri tanpa terhanyut oleh pikiran
dan perasaan klien.
4. Lotze (1858)
Empati merupakan lebih dari sekedar rasa
kasihan ataupun simpati. Empati atauemphatie berasal
dari bahasa Yunani “patien” berarti menderita atau merasakan.
Dapat disimpulkan pengertian dari
simpati adalah seseorang yang dapat benar-benar merasakan dan menghayati
kondisi orang lain termasuk bagaimana seseorang mengamati dan menghadapi masalah
dan keadaannya.
A. Aspek Empati
Ada tiga aspek dalam empati menurut Pattorson
(1980), yaitu :
1. Keharusan bahwa konselor mendengarkan klien dan
komunikasikan persepsinya kepada klien,
2. Ada pengertian atau pemahaman konselor tentang dunia
klien, dan
3. Mengkomunikasikan pemahamannya kepada klien
B. Makna Penting
Roger dalam Konseling dan Psikoterapi (Gunarsa
Singgih, 1992, hal 72), empati bukan hanya sesuatu yang bersifat kognitif
melainkan juga emosi dan pengalaman. Dalam usaha memahami dunia klien sebagaimana
klien mengalaminya, konselor berupaya memahami pengalaman klien dari sudut
klien itu sendiri. (“The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic
Personality Change”) atau emphatic understanding, yakni kemampuan untuk
memasuki dunia pribadi orang. Tiga atribut yang harus dimiliki konselor
dalam usaha mengubah perilaku klien: kewajaran atau keadaan sebenarnya (realness)
dan menerima (acceptantance) atau memperhatikan (care).
Egan (1975, dalam Ivey et al, 1987)
membedakan dua tipe untuk memahami “emphatic understanding”, yakni :
1. Empati primer : oleh Rogers.
Membentuk fondasi dan atmosfer inti helping
relationship. yakni mendengarkan semua pesan dan
meresponnya. Kemampuan paraphrasing dan merefleksikan perasaan konselor dengan
baik akan memulai dasar empati untuk memahami klien.
Contoh perkataan : “ Sekarang saya bisa
merasakan betapa sedih Anda pada waktu itu”.
1. Empati lanjutan (advanced accurate emphaty) yakni
memberi respon dan pemahaman terhadap hal yang tidak langsung dikatakan klien.
Dimana konselor memberikan lebih dari dirinya dan seringkali membutuhkan upaya
langsung untuk mempengaruhi klien. Karena informasi itu selalu subjektif bagi
interprestasi individu, konselor harus menyusun kembali situasi,kepercayaan,
atau pengalaman untuk membantu klien melihatnya dari perspektif dan berbeda dan
mengecek apakah interprestasi itu sudah benar.
Sikap empati sangat penting bagi
konselor, karena dengan sikap ini seorang konselor akan mampu menciptakan
hubungan baik dengan klien, selain itu mampu merasakan permasalahan yang
dialami klien. Sehingga konselor dapat memberikan alternative-alternative
pemecahan masalah untuk menyelesaikan masalah secara tersebut
Menciptakan / membina
hubungan baik dengan klien
Keterampilan membina hubungan baik
merupakan dasar dari proses komunikasi interpersonal dan dasar dari proses
pemberian bantuan. Hubungan yang baik akan memudahkan klien memahami saran
bidan sehingga mau mengikutinya. Klien merasa lebih puas dan akan kembali lagi
untuk memeriksaan diri ke bidan.
Sikap dan prilaku dasar yang dibutuhkan
oleh bidan agar tercipta hubungan baik :
S : Face your clients Squarely
(menghadap ke klien) dan Smile/nod at client (senyum/mengangguk ke klien).
O : Open and non-judgemental
facial expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak ternilai).
L : Lean towards client
(tubuh condong ke klien).
E : Eye contact ina
cultural-acceptable manner (kontak mata/tatap mata sesuai cara yang diterima
budaya setempat).
R : Relaxed and friendly
manner (santai dan sikap bersahabat).
Intonasi dan volume suara dapat
mencerminkan sikap hangat/tidaknya seseorang. Suara yang keras, mengebu-gebu,
kurang menunjukkan kehangatan dibandingkan dengan volume dan intonasi suara
yang lembut, tidak terlalu keras.
Tiga hal penting lain yang perlu
diperhatikan pada waktu konseling agar hubungan baik lebih mantap yaitu :
1. Menunjukkan tanda perhatian verbal
Tanda perhatian verbal yang dimaksud
adalah kata-kata pendek atau ungkapan kata yang singkat seperti : hemm…, ya,
lalu, oh ya, terus, begitu, ya.
1. Menjalin kerja sama
Dalam konseling, bidan yang baik adalah
bidan yang mementingkan hubungan baik dengan klien. Hal ini akan terwujud bila
selama proses konseling bidan selalu berusaha bekerja sama dengan klien.
1. Memberikan respon yang positif : pujian, dukungan.
3.1
Memberi pujian maksudnya mengungkapkan persetujuan atau kekaguman sehingga
mendorong tingkah laku yang baik, penghargaan terhadap usaha yang telah
dilakukan klien dengan baik. Misalnya memuji klien, menunjukkan bahwa bidan
menghargai perhatian klien terhadap kesejahteraan dirinya.
3.2
Memberikan dukungan maksudnya memberi dorongan, kepercayaan dan harapan. Bidan
mengungkapkan kata-kata agar klien menyadari kemampuannya dalam mengatasi
masalah dan membantu klien mengatasi masalahnya. Misalnya, mengemukakan
alternative yang bisa diharapkan, menekankan hal baik yang telah mereka
lakukan, dan perlu dilanjutkan, seperti mengatakan kepada klien bahwa dengan
datang ke Polindes berarti mereka telah menolong diri mereka sendiri.
Contoh prilaku atau respon positif
bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik, menimbulkan perasaan nyaman
pada klien misalnya :
1. Bersalaman dengan ramah
2. Mempersilakan duduk
3. Bersabar
4. Tidak menginterupsi / memotong pembicaraan klien
5. Menjaga kerahasiaan klien
6. Tidak melakukan penilaian
7. Mendengarkan dengan penuh perhatian
8. Menanyakan alasan kedatangan klien
9. Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien
10.
Menghargai apapun pertanyaan maupun
pendapat klien
Dalam konseling, bidan yang baik adalah
bidan yang mementingkan hubungan baik dengan klien. Hal ini akan terwujud bila
selama proses konseling bidan selalu berusaha bekerjasama dengan klien.
Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu
dijaga seterusnya.
Menurut Roger dalam Stuart G.W
(1998),hubungan yang terapeutik dengan :
1. Kejujuran
2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif
3. Bersikap positif
4. Empati bukan simpati
5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien
6. Menerima klien apa adanya
7. Sensitif terhadap perasaan klien
8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien atau diri
konselor sendiri.
Menunjukan Tingkah
Laku
Verbal / Non Verbal
yang Positif
Komunikasi memiliki beberapa pengertian,
antara lain merupakan sebuah proses interaksi sosial antara dua atau lebih
individu yang mencoba saling mempengaruhi dalam hal ide, sikap, pengetahuan,
dan tingkah laku. Selain itu komunikasi juga di definisikan sebagai proses
memberitahukan dan menyebarkan pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud untuk
menggugah partisipasi, agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik
bersama. Seperti yang telah kita ketahui, Komunikasi terdiri dari dua jenis
yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.
Komunikasi non verbal adalah pesan yang disampaikan dalam komunikasidikemas
dalam bentuk non verbal, tanpa
kata-kata.
1. Bahasa tubuh; meliputi
lambaian tangan, ekspresi wajah, kontak mata,sentuhan, gerakan kepala, sikap/postur tubuh, dan lain-lain.
2. Tanda; dalam konunikasi non verbal menggantikan
kata-kata. Misal: bendera putih mengartikan ada lelayu.
3. Tindakan atau perbuatan; tindakan tidak menggantikan
kata-kata tetapi mengandung makna. Misal: menggebrak meja berarti marah.
4. Objek ; objek tidak menggantikan kata-kata tetapi juga
mengandung makna. Misal: pakaian mencerminkan gaya hidup seseorang.
5. Warna; menunjukkan warna emosional, cita rasa, keyakinan agama, politik,
dan lain-lain. Misal: warna merah muda adalah warna feminim.
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang
menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa verbal merupakan sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan.
Menurut Larry L. Barker, bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu penamaan, interaksi dan transmisi informasi(Mulyana, 2007).
Aspek
dalam komunikasi verbal yaitu perbendaharaan kata-kata (vocabulary),
kecepatan (racing), intonasi suara, humor, waktu yang tepat dan singkat.
C. Keterampilan Observasi
Bidan
perlu mengamati tingkah laku pasien secara verbal dan non-verbal untuk
mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sejalan (sinkron) dan campur aduk.
Bidan perlu menggabungkan informasi kedalam tiga kategori.
1. Tingkah laku non-verbal klien
Cara menatap mata, bahasa tubuh,
kualitas suara, merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang sedang
terjadi pada diri klien.
1. Tingkah laku verbal klien
Kapan klien beralih topik apa saja
kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan
pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan.
1. Kesenjangan pada diri klien
Seorang bidan yang tajam pengamatannya
akan memperhatikan bahwa ada beberapa ketidaksesuaian antara tingkah laku
verbal dan non-verbal antara dua buah pertanyaan, antara apa yang diucapkan dan
apa yang dikerjakan.
Meski tingkah laku verbal dan non-verbal
bisa berdiri sendiri tapi pada kenyataannya verbal dan non-vebal tidak
terpisahkan, saling menguatkan arti yang sebenarnya dari suatu tingkah laku.
Dalam mengobservasi sesuatu ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan :
- Pengamatan
obyektif adalah berbagai tingkah laku yang kita “lihat” dan “dengar”.
Misalkan : jalan mondar-mandir tangan dikepal, dsb.
- Interprestasi/penafsiran
adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan
kita dengar. Misalkan : kesal karena terlalu lama menunggu.
Kita dapat belajar lebih peka terhadap
tingkah laku non-verbal dan arti dari suatu tingkah laku verbal yang ditampilkan
seorang klien. Misalkan klien berkata bahwa hubungannya dengan suami baik-baik
(dengan raut kesedihan diwajahnya). Harus ditelaah lebih lanjut arti dari
ketidaksesuaian antara yang disampaikan (verbal) dengan ekspresi muka
(non-verbal).
2. Kesesuaian antara duah buah pertanyaan.
3. Kesesuaian antara apa yang diucapkan dan apa yang
dikerjakan.
Keterampilan Mendengar
Aktif
Ada 4 bentuk mendengarkan yang bisa
digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi yaitu:
1. Mendengar pasif (diam)
Dilakukan antara lain bila klien sedang
menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi
perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila klien berhenti berbicara sejenak,
konselor dapat mendengar pasif untuk memberi kesempatan menenangkan diri.
2. Memberi tanda perhatian verbal
Seperti : yaa, lalu, oh begitu, terus…,
dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang
terjadi pada dirinya.
3. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi
Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang
diucapkan/diceritakan klien. Misal : Bagaimana hubungan ibu dengan
saudara-saudara suami? Apakah maksud ibu dengan perbuatan yang tidak layak itu?
4. Mendengar aktif
Memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan
perasaan klien.
Refleksi isi atau paraphrasing adalah
menyatakan kembali atau pesan klien dengan menggunakan kata-kata lain, memberi
masukan pada klien tentang inti ucapan yang baru dikatakan klien dengan cara
meringkas dan memperjelas ucapan klien.
Refleksi perasaan, adalah mengungkapkan
perasaan klien yang teramati olek konselor dari intonasi suara, raut wajah dan
bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang tersirat dari kata-kata verbal
klien.
Mendengarkan informasi yang disampaikan
klien sangat penting. Sering kali kita mendengar tapi tidak benar-benar
mendengarkan.
Mendengarkan adalah suatu proses aktif
yang membutuhkan partisipasi aktif dari yang mendengarkan (LISTENING).
Mendengar merupakan proses mendengar
suara melalui alat pendengaran (telinga) tanpa ada proses si pendengar dalam
menyerap apa-apa yang didengar (HEAR-masuk kuping kiri keluar kuping kanan)
Penelitian tentang interaksi klien –
bidan menunjukkan bahwa hanya satu per tiga dari yang diucapkan bidan bersifat
mendorong klien untuk berbicara. Sebagian besar bersifat netral (ucapan yang
membantu arus informasi klien dengan bidan, tetapi tidak mendorong partisipasi
aktif klien), dan sering kali bidan memotong pembicaraan klien, memutuskan
informasi yang penting yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan.
Ucapan-ucapan yang demikian tidaklah menunjukkan rasa hormat kepada klien,
bahkan klien merasa tidak nyaman. Keterampilan mendengarkan membutuhkan latihan
secara terus menerus. Meringkas pokok-pokok utama dari hal-hal yang diucapkan
orang lain adalah latihan yang baik untuk keterampilan mendengarkan.
Tips dalam mendengar aktif:
1. Terima klien apa adanya. Hargai klien sebagai individu
yang berbeda dari individu lainnya
2. Dengarkan apa yang dikatakan oleh klien dan juga
bagaimana ia mengatakan hal itu. Perhatikan intonasi suara, pemilihan, ekspresi
wajah dan gerakan-gerakan tubuh.
3. Tempatkan diri pada posisi klien selama mendegarkan
4. Kadang-kadang lakukan mendengarkan pasif (diam). Beri
waktu pada klien untuk berfikir, bertanya dan berbicara. Sesuaikan dengan kecepatan
klien.
5. Dengarkan klien dengan seksama, jangan berfikir apa
yang akan anda lakukan selanjutnya.
6. Lakukan pengulangan/refleksikan apa yang anda dengar,
sehingga bidan klien paham
7. Duduk menghadap klien dengan nyaman, hindari gerakan
yang mengganggu, tatap dan perhatikan klien.
8. Tunjukkan tanda perhatian verbal dan nonverbal.
Keterampilan Bertanya
Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi
pertanyaan tertutup dan terbuka.
Pertanyaan tertutup menghasilkan
jawaban “ya” atau “tidak” yang berguna untuk mengumpulkan informasi yang
faktual (biasanya dilakukan pada awal-awal percakapan). Pertanyaan tertutup
tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dan proses
pengambilan keputusan. Dengan menggunakan pertanyaan tertutup, bidan mengontrol
jalannya percakapan. Klien hanya akan memberikan informasi yang bersangkut paut
dengan pertanyaan yang ditanyakan.
Pertanyaan terbuka adalah
pertanyaan yang memungkinkan adanya berbagai macam jawaban, memberi kebebasan
menjawab. Pertanyaan terbuka akan memberi kebebasan atau kesempatan kepada
klien dalam menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif klien dalam
percakapan. Jenis pertanyaan terbuka biasanya memakai kata tanya “Bagaimana”
atau “apa”. Cara efektif untuk menggali informasi adalah dengan bertanya menggunakan
pertanyaan terbuka. Juga perlu digunakan intonasi suara yang menunjukkan minat
dan perhatian.
Menurut penelitian, dalam konseling
bidan mempunyai kecenderungan untuk lebih menggunakan pertanyaan tertutup atau
pertanyaan yang mengarahkan. Hal ini membatasi kesempatan klien berbagi
informasi dan menyatakan pendapat dan perasaannya (studi interaksi
Client-Provider Indonesia, 1997). Dengan memiliki keterampilan mendengarkan dan
bertanya, klien akan merasa didengar, diperhatikan dan dihormati, berarti bidan
ikut dalam meningkatkan mutu pelayanan.
Tips dalam bertanya yang efektif antara
lain:
1. Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian,
minat dan keakraban
2. Gunakan kata-kata yang dipahami oleh klien
3. Ajukan pertanyaan satu persatu. Tunggu jawaban dengan
penuh minat, jangan memotong
4. Gunakan kata-kata yang mendorong klien untuk tetap
berbicara seperti: dan, lalu, selanjutnya
5. Hindari penggunaan kata tanya; mengapa, karena
kemungkinan klien merasa disalahkan
6. Ajukan pertanyaan dengan berbagai cara bila klien
belum paham
7. Hindari pertanyaan yag mengarahkan
8. Gunakan pertanyaan yang terbuka, karena lebih efektif
daripada pertanyaan tertutup
Mempertahankan kontak
mata saat berkomunikasi
Kontak mata adalah salah satu penghubung
nonverbal yang paling penting yang Anda miliki untuk berkomunikasi dan
berhubungan dengan orang lain yaitu pertemuan mata antara dua orang yang
mengekspresikan komunikasi nonverbal, kontak ini terjadi ketika dua orang
melihat satu sama lain secara langsung atau ketika dua orang melihat mata satu
sama lain pada saat yang sama yang biasanya ditampilkan melalui ekspresi wajah.
Kontak mata adalah bentuk komunikasi non
verbal dan diyakini memiliki pengaruh besar pada perilaku sosial. Frekuensi dan
interpretasi dari kontak mata bervariasi antara budaya dan spesies. Kontak mata
dan ekspresi wajah dan sosial yang penting menyediakan informasi emosional.
Kontak mata merupakan aspek yang sangat
penting dalam berkomunikasi. Kontak mata menunjukan bahwa seorang konselor
menghormati kehadiran kliennya. Mata adalah cermin jiwa, kekuatan mata mampu
mempengaruhi seorang klien agar dapat terbuka tentang permasalahan yang
dihadapinya terhadap konselor. Kontak mata memberikan informasi sosial kepada
orang yang sedang melakukan konseling. Terlalu banyak kontak mata menunjukkan
bahwa seorang tersebut memiliki sifat agresif. Sedangkan jika terlalu kontak
mata orang tersebut dianggap tidak mempunyai minat pada orang yang diajak
bicara.
A. Petunjuk tentang kontak mata
Kontak mata memberikan petunjuk berharga
tentang apa yang sedang orang pikirkan.
1. Kinestetik adalah orang cenderung untuk melihat
ke bawah
2. Visual adalah orang cenderung untuk melihat keatas
3. Auditori adalah orang cenderung untuk melihat ke
samping
4. Religius yaitu Orang-orang yang melihat ke kiri untuk
mengumpulkan pikiran
5. Ilmiah yaitu Orang-orang yang melihat ke kanan
6. konstuktif atau sedang mengarang jawaban yaitu
Orang-orang yang melihat ke atas dan kanan
1. B. Ada 4 cara untuk mempertahankan dan meningkatkan
keterampilan kontak mata saat berkomunikasi (Tyastuti, dkk, 2008 )
1. Berbicara dengan group
2. Berbicara dengan seorang individu
3. Mendengarkan seseorang
4. Menarik seseorang
Dalam berbagai kebudayaan pandangan mata
kerap kali ditafsirkan sebagai pernyataan tingkat keseriusan perhatian,
mendengarkan , melihat, mengerti, melamun, menerawang, bingung, marah,
menguasai , membiarkan dan masa bodoh yang semuanya harus ditafsirkan dalam
konteks sosial budaya tertentu .
Jadi dapat disimpulkan dalam melakukan
komunikasi yang baik sebagai seorang pembicara atau pendengar kita
mengungkapkan sesuatu melalui penglihatan dari awal hingga akhir. Oleh
sebab itu peranan mata sebagai sight yang berkaitan dengan sejauhmana
tingkat pemahaman dan pengetahuan terhadap kosa kata yang kita miliki ,
memandang gagasan, maupun arah.
C. Efek negatif dari kontak mata
1. Menimbulkan perasaan dalam diri konseli bahwa dirinya
diragukan
2. Menimbulkan kemarahan
3. Menimbulkan perasaan heran
4. Menimbulkan kebingungan pada diri sendiri
5. Menimbulkan perasaan terancam
6. Menimbulkan perasaan curiga
Gagal membuat kontak mata pada saat
perkenalan membuat orang tidak nyaman. Mengalihkan mata anda akan meninggalkan
kesan apakah orang ini malu, gugup, apakah ia menyembunyikan sesuatu.
Jadi, kontak mata dapat membawa anda
pada suatu hubungan. Penggunaan kontak mata yang baik akan membuat anda sukses
menjaling hubungan misalnya antara bidan dengan klien. Kontak mata yang cukup
dan sering adalah apa yang dibutuhkan dalam mempertahankan hubungan yang saling
memenuhi.
SKENARIO UNTUK KELAS A
- Seorang
ibu hamil datang ke BPM ditemani oleh suaminya, mengeluah mual dan muntah.
Ibu ini hamil pertama kali. Bagaimana bidan dalam memberikan asuhan
(komunikasi)
- Seorang
ibu hamil dengan kehamilan sudah menjelang persalinan datang mengeluh
suaminya tidak mau mengantar periksa. Bagaimana reaksi bidan?
SKENARIO UNTUK KELAS B
- Seorang
remaja SMU datang ke BPM diantar pacarnya, mengeluh telat haid, mual
dan muntah, mereka mengatakan bingung kehamilan ini mau diapain. Bagaimana
bidan dalam memberikan asuhan dalam komunikasi?
- Seorang
ibu hamil datang ke BPM tanpa diantar suami dengan keluhan suami senang
melakukan kekerasan di rumah tangga, dengan alasan bahwa janin yang
dikandung istrinya bukan “hasilnya”. Bagaimana bidan menyikapi masalah
ini, dalam memberikan asuhan kepada ibu hamil ini?
Langganan:
Postingan (Atom)

